KULTUR SEKOLAH 2
Nama : Sri Endang Lestari
Nim : 12001017
Kelas : PAI 4F
Tema : Kultur Sekolah
Salah satu isu penting
dan kritis dalam dunia pendidikan kita adalah bagaimana meningkatkan kualitas
pendidikan di sekolah. Masyarakat kini semakin sadar bahwa pendidikan merupakan
salah satu jembatan untuk mencapai kehidupan yang lebih baik di masa depan, dan
pendidikan yang berkualitas telah menjadi kebutuhan, tuntutan dan harapan semua
lapisan masyarakat. Pemerintah telah melakukan berbagai upaya peningkatan mutu
pendidikan, seperti pendidikan dan pelatihan guru, pengadaan sarana dan prasarana,
peningkatan kompetensi dan profesionalisme guru melalui pembelajaran kurikulum
dan sertifikasi guru, penelitian banding di dalam dan luar negeri, peningkatan
kesejahteraan guru melalui tunjangan sertifikasi, dll. Namun ternyata di
sebagian besar sekolah, semua upaya tersebut belum berdampak signifikan
terhadap peningkatan kualitas. Hal ini tentu saja menimbulkan tanda tanya,
“Masalahnya dimana?”
Sebagai suatu sistem, ada
tiga aspek utama yang erat kaitannya dengan mutu sekolah, yaitu: proses
pengajaran, kepemimpinan dan manajemen sekolah, dan budaya sekolah. Peningkatan
kualitas sekolah sebagian besar hanya menekankan pada aspek pertama, yaitu
peningkatan kualitas proses pengajaran dan sarana/prasarana, yang sedikit
terkait dengan kepemimpinan dan manajemen sekolah, dan tidak pernah dengan
budaya sekolah. Tentu pilihannya tidak terlalu salah. Namun, bukti sampai saat
ini menunjukkan bahwa sasaran peningkatan mutu dalam hal PBM dan
sarana/prasarana saja tidak cukup, penentu mutu pendidikan tidak hanya dalam bentuk
fisik, tetapi juga perlu disertai dengan pendekatan non fisik, yaitu dengan
menetapkan dan mengembangkan budaya. Sekolah. Budaya sekolah sebagai mode makna
dalam komunikasi sejarah, termasuk norma, nilai, kepercayaan, ritual, ritual,
tradisi, yang ada di sekolah dan diwariskan antar generasi, dipegang bersama
baik oleh kepala sekolah, guru, staf administrasi maupun siswa dan mempengaruhi
pola pikir (mindset), sikap, dan tindakan seluruh warga sebagai dasar mereka
dalam memahami dan memecahkan berbagai persoalan yang muncul di sekolah.
Konsep budaya dalam dunia
pendidikan merupakan suatu keadaan yang akan memberikan dasar dan arah bagi
proses pembelajaran yang efektif dan efisien. Budaya sekolah yang positif
meningkatkan kinerja sekolah, membangun komitmen komunitas sekolah, menumbuhkan
suasana kekeluargaan, kerjasama, ketahanan belajar, semangat untuk maju,
mendorong kerja keras, dan kurang rentan terhadap keluhan. Budaya sekolah
memegang peranan yang sangat penting dalam proses pendidikan, banyak anak
dikaruniai bakat yang luar biasa, namun karena kondisi sekolah yang tidak
mendukung, anak tidak mendapatkan pertumbuhan yang terbaik, bakatnya terpendam,
bahkan mati. Sebaliknya, seorang anak dengan kecerdasan dan bakat yang
pas-pasan, namun karena lingkungan sekolah yang baik, anak tersebut tumbuh
menjadi anak yang mandiri dan sukses. “Pembelajaran yang baik hanya dapat
berlangsung di sekolah dengan budaya positif. Kultur sekolah yang sehat akan
berdampak kesuksesan siswa dan guru dibandingkan dengan dampak bentuk reformasi
pendidikan lainnya. Kultur sekolah yang sehat dan positif berkaitan erat dengan
motivasi dan prestasi siswa serta produktivitas dan kepuasan guru”.
Kepala sekolah harus
memahami budaya sekolah saat ini dan menyadari bahwa ini tidak terlepas dari
struktur dan pola kepemimpinan. Transisi menuju budaya positif harus dimulai
dengan kepemimpinan kepala sekolah. Kepala sekolah harus mengembangkan
kepemimpinan berdasarkan dialog, kepedulian bersama dan saling pengertian.
Memungkinkan guru, administrator bahkan siswa untuk mengekspresikan pandangan
mereka, baik positif maupun negatif, tentang budaya sekolah saat ini, terutama
mengenai kepemimpinan kepala sekolah, struktur organisasi, nilai dan norma,
kepuasan kelas, kepuasan layanan dan produktivitas sekolah. Perspektif ini
penting dalam upaya mengubah budaya sekolah.
Budaya sekolah erat
kaitannya dengan visi kepala sekolah untuk masa depan sekolah. Kepala sekolah
yang memiliki visi untuk menghadapi tantangan sekolah di masa depan akan lebih
sukses dalam membangun kultur sekolah. Kepala sekolah dan guru harus mampu
memahami lingkungan sekolah yang spesifik tersebut. Karena, akan memberikan
perspektif dan kerangka dasar untuk melihat, memahami dan memecahkan berbagai
problem yang terjadi di sekolah. Dengan dapat memahami permasalahan yang
kompleks sebagai suatu kesatuan secara mendalam, kepala sekolah dan guru akan memiliki
nilai-nilai dan sikap yang amat diperlukan dalam menjaga dan memberikan
lingkungan yang kondusif bagi berlangsungnya proses pendidikan yang bermutu.
Dalam suatu organisasi
sekolah pada hakekatnya terdapat interaksi antar individu sesuai dengan peran
dan fungsinya masing-masing untuk mencapai suatu tujuan bersama. Tatanan nilai
yang mapan berusaha diwujudkan dalam berbagai perilaku sehari-hari melalui
proses interaktif yang efektif. Seiring waktu, perilaku ini mengembangkan pola
budaya yang unik di seluruh organisasi. Hal ini pada akhirnya menjadi kekhasan
lembaga pendidikan dan pembeda dengan lembaga pendidikan lainnya. Budaya
sekolah beroperasi di atas alam bawah sadar pemeluknya dan telah diturunkan
dari generasi ke generasi. Budaya mengatur perilaku dan hubungan internal dan
eksternal. Hal ini perlu dipahami dan digunakan dalam mengembangkan budaya sekolah.
Nilai-nilai baru yang diinginkan tidak akan langsung bekerja ketika
berhadapan/berbenturan dengan nilai-nilai lama yang sudah mendarah daging akan
dapat menghambat introduksi perilaku baru yang diinginkan.
Kultur sekolah merupakan
hal-hal yang sifatnya historis dari berbagai tata hubungan yang ada dan hal-hal
tersebut telah diinternalisasikan oleh warga sekolah. Sedangkan iklim sekolah
berada di permukaan dan berisi persepsi warga sekolah terhadap aneka tata
hubungan yang ada saat ini. Kultur sekolah memiliki tiga lapisan kultur yaitu:
1. Artifak di permukaan,
2. Nilai-nilai dan keyakinan
di tengah, dan
3. Asumsi yang berada di
lapisan dasar.
Artifak adalah adalah
lapisan kultur sekolah yang paling mudah diamati, seperti misalnya aneka ritual
sehari-hari di sekolah, berbagai upacara, benda-benda simbolik di sekolah, dan
aneka ragam kebiasaan yang berlangsung di sekolah. Lapisan yang lebih dalam
berupa nilai-nilai dan keyakinan yang ada di sekolah. Sebagian berupa
norma-norma perilaku yang diinginkan sekolah, seperti slogan-slogan rajin
pangkal pandai, air beriak tanda tak dalam, menjadi orang penting itu baik
tetapi lebih penting menjadi orang baik, hormati orang lain jika anda ingin
dihormati.
Komentar
Posting Komentar