KULTUR SEKOLAH 3

 

Nama              : Sri Endang Lestari

Nim                 : 12001017

Kelas              : PAI 4F

Tema              : Kultur Sekolah

 

Kali ini masih tentang pembahasan yang sama dengan yang kemaren-kemaren masih tentang Kultur Sekolah. Istilah “Kultur” awalnya berasal dari antropologi sosial. Yang termasuk dalam pengertian kebudayaan sangatlah luas. Istilah budaya dapat diartikan sebagai jumlah total dari pola perilaku, seni, kepercayaan, institusi, dan semua produk lain dari pekerjaan dan pemikiran manusia yang mencirikan kondisi sosial atau demografis yang menyebar bersama. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kebudayaan diartikan sebagai gagasan, adat istiadat, hal-hal yang telah terbentuk, hal-hal yang menjadi kebiasaan yang sulit diubah. Dalam penggunaan sehari-hari, orang sering mensinonimkan konsep budaya dengan tradisi. Dalam konteks ini, tradisi diartikan sebagai kepercayaan umum, sikap dan kebiasaan masyarakat, yang terlihat dalam perilaku sehari-hari yang menjadi kebiasaan kelompok sosial tersebut. Deere dan Kent mendefinisikan budaya sekolah sebagai keyakinan dan nilai bersama yang berfungsi sebagai perekat kuat yang mengikat warga masyarakat bersama-sama.

Sebuah sekolah mungkin memiliki banyak budaya, dengan satu budaya dominan dan yang lain subordinat. Banyak kepercayaan dan nilai yang dianut secara luas di sekolah, dengan identifikasi yang terbatas dari kepercayaan dan nilai tertentu di antara beberapa kelompok. Budaya sekolah merupakan pola asumsi yang mendasari yang muncul dari penemuan-penemuan ketika suatu kelompok belajar untuk memecahkan masalah yang valid dan dirasakan valid dan pada akhirnya mengajarkan warga baru sebagai cara yang tepat untuk melihat, berpikir, dan merasakan masalah tersebut. yang dapat dipelajari dan diuji untuk mengatasi kesulitan yang dihadapi sekolah dalam menghasilkan lulusan yang cerdas, terampil, mandiri, dan bersungguh-sungguh. Dalam sebuah organisasi (lembaga pendidikan), budaya diartikan sebagai tindakan dan norma. Pertama, tindakan adalah keyakinan dan tujuan bersama Apa yang dimiliki calon anggota organisasi akan membentuk perilaku mereka dan bertahan untuk waktu yang lama, bahkan ketika anggota berubah.

Di lembaga pendidikan misalnya, budaya ini memanifestasikan dirinya dalam bentuk saling menyapa, saling menghormati, toleransi, dan lain-lain . Kedua, kode etik adalah pola umum perilaku dalam suatu organisasi yang berlangsung lama karena semua anggotanya meneruskan perilaku tersebut kepada anggota baru. Di lembaga pendidikan, perilaku ini mencakup segala macam perilaku mulia, seperti semangat belajar, menjaga kebersihan setiap saat, dan bertutur kata yang santun. Dalam suatu organisasi sekolah pada hakekatnya terdapat interaksi antar individu sesuai dengan peran dan fungsinya masing-masing untuk mencapai tujuan bersama. Tatanan nilai yang mapan berusaha diwujudkan dalam berbagai perilaku sehari-hari melalui proses interaktif yang efektif. Seiring waktu, perilaku ini berkembang  pola budaya tertentu yang unik antara satu organisasi dengan organisasi lainnya. Hal inilah yang pada akhirnya menjadi karakter khusus suatu lembaga pendidikan yang sekaligus menjadi pembeda dengan lembaga pendidikan lainnya.

Karakteristik budaya sekolah Budaya sekolah merupakan budaya sekolah yang dapat berdampak pada kehidupan masyarakat sekolah, baik dengan ciri budaya positif maupun negatif. Hal ini sejalan dengan pandangan Moerdiyanto bahwa “budaya sekolah terdiri dari budaya positif dan budaya negatif. Budaya positif adalah budaya yang berkontribusi terhadap mutu sekolah dan kualitas hidup warga negara. Dari segi mutu sekolah dan kualitas hidup, dapat diartikan sebagai Kualitas yang berkaitan dengan kehidupan memiliki nilai moral dan agama bagi warga sekolah.Kegiatan siswa dalam kehidupan sehari-hari tidak terlepas dari peran serta budaya sekolah dalam proses bertindak, bertindak, menonton bahkan berpikir. kualitas hidup siswa yang diharapkan berasal dari perspektif moral dan agama bagi siswa dengan perilaku yang baik.Budaya positif ini akan memberikan sekolah dan warganya kesempatan untuk membentuk dan mengembangkan kompetensi dan keterampilan.

Budaya positif dan kuat memiliki kekuatan untuk menjadi aset dalam pengembangan pendidikan, menghargai dimensi spiritual dan intelektual siswa, memperbaiki kondisi dan menjadikannya lebih kondusif bagi pertumbuhan dan perkembangan intelektual. Dan budaya negatif adalah budaya yang anarkis, negatif, beracun, bias, dan mendominasi. Sekolah yang melihat dan menargetkan hasil pendidikan hanya berupa kemampuan intelektual sementara mengabaikan dimensi spiritual siswa merupakan bagian dari budaya negatif karena seringkali gagal melakukan upaya-upaya yang mengarah pada pembentukan dan pengembangan kecerdasan spiritual siswa. Budaya sekolah bersifat dinamis. Perubahan pola perilaku dapat mengubah sistem nilai dan keyakinan aktor, dan bahkan mengubah sistem asumsi yang ada, meskipun hal ini sangat sulit. Namun yang jelas, dinamika budaya sekolah dapat menimbulkan konflik, dan jika ditangani dengan baik dapat membawa perubahan positif. Dan kultur sekolah itu milik kolektif dan merupakan perjalanan sejarah sekolah, produk dari berbagai kekuatan yang masuk ke sekolah. Sekolah perlu menyadari secara serius mengenai keberadaan aneka kultur subordinasi yang ada seperti kultur sehat dan tidak sehat, kultur kuat dan lemah, kultur positif dan negatif, kultur kacau dan stabil, dan konsekuensinya terhadap perbaikan sekolah.

Identifikasi Kultur Sekolah

Kotter memberikan gambaran tentang kultur dengan melihat dua lapisan. Lapisan pertama sebagian dapat diamati dan sebagian lainnya tidak diamati. Dari pengelompokan ini maka dapat dipisahkan antara kultur yang dapat dilihat dengan yang tidak dapat dilihat, dan lapisan yang bisa diamati antara lain desain arsitektur gedung, tata ruang, desain eksterior dan interior sekolah, kebiasaan, peraturan-peraturan, cerita-cerita, kegiatan upacara, ritual, simbol-simbol, logo, slogan, bendera, gambar-gambar yang dipasang, tanda-tanda yang dipasang, sopan santun, cara berpakaian warga sekolah. Sedangkan hal-hal di balik itu tidak dapat diamati, tidak kelihatan dan tidak dapat dimaknai dengan segera. Lapisan pertama ini berintikan norma perilaku bersama warga organisasi yang berupa norma-norma kelompok, cara-cara tradisional berperilaku yang telah lama dimiliki suatu kelompok masyarakat (termasuk sekolah). Norma-norma perilaku ini sulit diubah, yang biasa disebut sebagai artifak. Lapisan kedua merupakan nilai-nilai bersama yang dianut kelompok berhubungan dengan apa yang penting, yang baik, dan yang benar. Lapisan kedua ini semuanya tak dapat diamati karena terletak dalam kehidupan bersama. Kultur pada lapisan kedua ini sangat sulit atau bahkan sangat kecil kemungkinannya untuk diubah serta memerlukan waktu yang lama.

Komentar